Kamis, 17 Desember 2009

Kebudayaan Indonesia Modern

     Lebih dari tiga dasa warsa masyarakat sibuk memusatkan perhatian pada masalah ekonomi. Oleh karena itu, pasar telah menjadi faktor yang dominan dalam pembentukan nilai dan tatanan sosial masyarakat, berawal dari suatu masyarakat tradisional menjadi suatu masyarakat modern yang tergantung pada teknologi. Pasar juga telah memperluas orientasi masyarakat dan mobilitas batas-batas sosial budaya yang menyebabkan tidak jelasnya batas-batas sosial budaya.  
     Masalah utama yang merupakan salah satu perubahan karakter masyarakat pada saat ini adalah melemahnya ikatan-ikatan tradisional antarsesama masyarakat dan membebasnya minat individual setiap indvidu masyarakat dalam berekspresi dan juga dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, masyarakat telah terlepas dari sistem dan peraturan lama dan telah merusaknya hubungan antarsesama, baik antatara pemerintah dengan rakyatnya maupun sesame rakyat atau sesame pejabat pemerintah. Keadaan seperti inilah dapat mengancam sistem sosial dan budaya yang ada di Indonesia, maka dari itu dibutuhkan system sosial dan budaya yang baru.
     Keadaan tersebut juga diperburuk dengan berubahnya sistem perekonomian di Indonesia, yang berawal dari sistem perekonomian nasional menjadi perekonomian global. Sistem ini dapat menciptakan suatu masyarakat terikat dalam suatu jaringan komunikasi internasional yang luas dengan batas-batas yang tidak jelas karena dalam globalisasi tidak hanya orang dan barangsaja yang akan berperan, tetapi informasi yang terus berkembang juga. Informasi tersebut merupakan statu keuntungan dan sekaligus suatu ancaman yang sangat berbahaya bagi nilai-nilai sosial. Walaupun begitu, apa dasar dari pernyataan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat global? Dasarnya adalah pernyataan Marshall Goldsmith (1998) yang menunjukan tiga ciri masyarakat global yang terbentuk akibat proses ekspansi pasar. Ketiga ciri itu, meliputi: diversitas (perbedaan), pembentukan nilai panjang, dan hilangnya humanitas (perikemanusiaan).

Diversitas
     Masyarakat global merupakan masyarakat yang bersifat diversitas diberbagai bidang, terutama bidang bahasa dan komunikasi. Hal ini telah membuat masyarakat membiasakan diri untuk menggunakan suatu sistem global. Salah satunya hádala sistem komunikasi global yang menggunakan bahasa Inggris. Menurut Goldsmith perbedaan bahasa dapat menyebabkan lahirnya perbedaan dalam cara membuat keputusan dan memecahkan masalah. Walaupun begitu, dalam globalisasi perbedaan cenderung dipelihara dalam rangka menjaga pentingnya identitas seseorang dan membuat seseorang mendapatkan penghargaan sosial ekonomi, sehingga menyebabkan pertukaran nilai-nilai sosial dan budaya lebih dinamis, tetapi tidak jelas.

Pembentukan Nilai Jangka Panjang
     Komunikasi global pun akan melahirkan suatu sistem jaringan yang sangat luas dan canggih. Jaringan ini akan menghubungkan seluruh pemikiran manusia dalam satu pemikiran global yang bekerja untuk memecahkan masalah yang ada dengan tujuan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Dengan adanya sistem jaringan yang luas dan canggih tersebut, manusia dalam melakukan tindakan sosial tidak hanya lagi berdasar sumber-sumber lokal saja, tetapi juga berdasar sumber-sumber global yang disosialisaikan secara umum dan dalam jangka waktu yang panjang dengan didukung oleh adanya berbagai media, TV, film, games, atau pengalaman realitas virtual, yang dapat diakses dengan mudah dan dengan biaya murah. Nilai jangka panjang yang merupakan efek dari komunikasi global tersebut merupakan investasi yang diperoleh suatu visi, kreativitas, inovasi, dan kerja keras.
    
Hilangnya Humanitas
     Selain dari kedua masalah tersebut, masalah yang utuma dalam globalisasi yaitu masalah tentang hilangnya humanitas. Hal tersebut terjadi bukan saja akibat modernisasi dan proses  teknologisasi yang terjadi secera besar-besaran, tetapi juga akibat interaksi tatap muka yang cenderung menghilang dari waktu ke waktu. Keberadaan media masa akan menjadi suatu hal yang dapat menguji sifat kemanusiaan kita. Media masa melahirkan jarak baru antarsesama masyarakat dalam berkomunikasi yang dapat menyebabkan terancamnya sifat empati antar sesama. Hal ini pun diperburuk dengan digunakannya alat-alat elektronik yang terlalu efisien dalam komunikasi antarsesama manusia yang menyebabkan masyarakat kehilangan intensitas sosial akibat pola alokasi waktu yang berubah dan cenderung berhadapan dengan alat-alat elektronik daripada sesama manusia. Manusia semakin terpisah dengan manusia lainnya yang menyebabkan hubungan personal menjadi kurang penting sejalan dengan menghilangnya empati dalam diri masyarakat.

     Ketiga ciri masyarakat tersebut sangatlah berbahaya karena dapat mengakibatkan terjadinya konformitas, stimulasi jangka pendek, dan isolasi dalam masyarakat tersebut dan juga berdampak pada usaha penyatuan masyarakat  yang pada awalnya berdasar pada penyatuan etnis dan kelompok-kelompok, berubah menjadi penyatuan pikiran-pikiran, nilai-nilai ,dan praktik sosial yang beragam yang dimiliki oleh individu-individu bukan kelompok.
     Proses globalisasi ini yang merupakan realitas baru bagi Indonesia, mendapatkan berbagai tanggapan oleh masyarakat. Hal ini tampak dari proses perlawanan dan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap berbagai pengaruhnya. Dalam keadaan inilah proses ”lokalisasi” (usaha pelemahan dominasi kebudayaan global) dapat terjadi. Proses ini dapat menunjukkan kemampuan kebudayaan lokal dalam mengambil keuntungan dari berbagai unsur baru yang masuk. Walaupun begitu, hampir tidak ada masyarakat pun yang terbebas sepenuhnya dari pengaruh globalisasi yang semakin kuat di bidang transportasi dan teknologi komunikasi. Pemerintah pun yang berperan dalam menyaring informasi yang masuk ke dalam negara, tidak mampu meredam arus informasi yang begitu pesat perkembangannya.
     Informasi-informasi tersebut yang disalurkan melalui berbagai media telah membentuk ideologi yang paling mendasar, yakni penegasan perbedaan dan kebebasan karena keragaman pilihan informasi memberi kemungkinan yang hampir tak terbatas untuk membangun perbedaan-perbedaan (Bourdieu, 1984). Perbedaan merupakan ciri  yang paling penting dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai instansi terbentuk dalam rangka menunjukan perbedaan tersebut seperti media masa dan pasar yang menyediakan pilihan barang dengan jenis dan kualitas yang berbeda.
     Pengaruh dari perbedaan ini dapat dilihat pada tiga sisi yang berbeda. Pertama, perbedaan tampak dari perkembangan jenis pengetahuan yang beragam dan kualitas yang bertingkat-tingkat. Berbagai agen terlibat dalam usaha peningkatan kualitas pengetahuan masyarakat, seperti kursus-kursus dan berbagai lembaga pendidikan yang berperan di dalam peningkatan mutu dan kualitas pengetahuan tersebut. Yang terpenting di sini adalah orang dapat hidup dalam perbedaan-perbedaan tingkat penguasaan dan keragaman pengetahuan yang dimiliki masing masing individu. Perbedaan inilah yang menyebabkan terbentuknya stratifikasi dalam masyarakat yang semakin rumit. Perkembangan masyarakat ini pun telah memperlihatkan kemampuan masyarakat dalam mengkaitkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya sehingga membentuk hubungan fungsional di dalam mengantisipasi kebutuhan dan masalah masyarakat modern. Berarti pengetahuan merupakan salah satu faktor pembeda dalam interaksi sosial.
     Kedua, perbedaan dalam nilai-nilai sosial yang terjadi secara meluas. Penerimaan terhadap nilai-nilai yang berbeda  tidak hanya mengubah tata nilai, tetapi juga memiliki dampak yang luas bagi interaksi  sosial. Norma-norma yang terbentuk lebih bersifat melayani kepentingan kelompok-kelompok  tanpa mempedulikan batas-batas budaya yang mulai menghilang.
     Ketiga, interaksi sosial memperlihatkan tidak hanya perbedaan saja yang muncul tetapi juga pertentangan yang muncul secara bersamaan. Sejalan dengan ini kelompok-kelompok semakin bebas mengekspresikan bentuk-bentuk interaksi yang berbeda dengan kelompok lain sehingga kebersamaan menjadi tidak penting lagi dalam kehidupan. Perbedaan-perbedaan ini tidak hanya melemahkan batas-batas tradisi, tetapi juga telah menciptakan pola-pola hubungan antar sesama memburuk.
     Perubahan yang terjadi ini telah menunjukkan pergeseran pendefinisian kebudayaan pada tingkatan yang berbeda-beda. Pada saat ini kebudayaan tidak hanya merupakan definisi yang terlihat pada struktur simbolisnya, tetapi juga dituntut pemahaman struktur sosialnya. Sejalan dengan ini, orientasi nilai yang berubah dalam masyarakat pada dasarnya menjadi basis munculnya perbedaan sosial yang kemudian menjadi basis struktural dalam pendefinisian kebudayaan. Kebudayaan menjadi lain artinya untuk semua kalangan.
     Perubahan masyarakat pada saat ini mengarah pada pola pembentukan pola etnisitas baru yang didasarkan pada batas-batas kebudayaan yang berbeda. Dalam keadaan inilah dominasi nilai-nilai mencair sejalan dengan terlibatnya berbagai pihak dalam proses pendefinsian kebudayaan.
     Dalam kecenderungan ini juga muncul satu persoalan yang dihadapi kaum akademisi yaitu untuk menunjukkan situs suatu kebudayaan. Pada apa, misalnya kebudayaan Jawa dengan Sunda atau Batak dapat ditemukan? Apakah pada kebiasaannya, pada kepribadiaanya, pada bahasanya  atau pada simbol-simbol yang digunakna oleh kebudayaan tersebut? Apa mungkin kita membedakan suku dari faktor-faktor tersebut? Masalah tersebut dapat muncul karena adanya tiga proses.
     Pertama, mengaburnya batas-batas geografis yang disebabkan oleh mobilitas penduduk. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh aktivitas yang berlangsung melintasi batas-batas geografis, tetapi juga keterikatan orang terhadap batas geografis semakin melemah. Dalam hal ini kesetiaan pada daerah asal mulai runtuh karena setiap individu akan dengan mudah mengubah tempat tinggal menjadi suatu yang lebih menguntungkan. Dalam konteks ini, sistem sosial yang dibangun dengan asumsi batas-batas geografis menjadi kurang relevan. Bagaimana, misalnya menjangkau orang-orang yang ada di perjalanan di atas pesawat atau kereta api dalam suatu  sistem komunikasi.
     Kedua, batas kebudayaan yang mulai menghilang yang merupakan proses yang berlangsung akibat faktor mobilitas dan akibat proses sosialisasi yang berubah. Mobilitas yang padat menyebabkan landasan budaya seseorang menjadi sangat berbeda dengan sebelumnya sehingga budaya asal tidak dikenal dengan baik, kemudian proses sosialisasi yang berlangsung pada landasan kebudayaan lain menyebabkan luasnya pengetahuan budaya dan juga hilangnya loyalitas tradisional. Kebudayaan mulai menjadi sesuatu yang dipilih bukan diterima. Dalam kondisi semacam ini ada dua hal yang penting yaitu: saluran komunikasi dan simbol komunikasi. Saluran lama, seperti penggunaan tokoh informal, tidak dapat secara efektif digunakan sebagai saluran karena ikatan dan kepatuhan terhadap tokoh budaya akan semakin berkurang. Demikian pula simbol yang digunakan mulai berubah sehingga dibutuhkan simbol-simbol baru yang lebih komunikatif dalam penyampaian pesan yang dapat bersifat lintas etnis, kelompok, agama, dan lain-lain.Iklim ini menjadi bersifat terbuka bagi pilihan-pilihan dan keterlibatan berbagai pihak.
     Ketiga, otonomi individu dan kelompok yang semakin besar. Hubungan-hubungan kekuasaan mulai berubah, khususnya hubungan negara, pasar, dan masyarakat. Individu dari suatu kelompok mulai memiliki hubungan yang lebih seimbang dengan negara sehingga fungsi kontrol masyarakat lebih dapat berjalan. Demikian pula dengan dengan pasar di mana hak-hak konsumen dapat lebih dinegosiasikan. Dalam hal ini kepatuhan-kepatuhan akan melemah sehingga perintah dari atas ke bawah tidak dapat dipaksakan tanpa ada tawar menawar. Bagaimana ketiga konteks perubahan ini dapat mengubah pola hubungan sosial secara signifikan.
     Proses globalisasi telah melahirkan diferensiasi yang meluas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Gaya hidup yang terbentuk sejalan dengan munculnya budaya kota, telah mengubah orientasi masyarakat dari kelompok yang berorientasi pada tata nilai yang umum ke tata nilai yang khusus dan dengan batas-batas simbolik baru. Etnis dan agama secara teoritis menjadi kurang penting karena mulai digantikan oleh ikatan-ikatan lokalitas baru dan profesi baru yang menjadi bagian dari proses pembentukan gaya hidup secara keseluruhan.
     Pada saat kota-kota menjadi lingkungan sosial dominan yang kemudian dihuni oleh lebih dari separuh penduduk Indonesia, maka pergeseran dalam definisi komunitas tidak akan terjadi. Tidak lagi ada batas-batas budaya yang diikat oleh agama dan etnis karena dasar kapital ekonomi telah menjadi dasar dari pengelompokan sosial. Selain melahirkan sistem sosial yang lebih terbuka akibat proses tersebut, pergeseran ini melahirkan kesadaran baru tentang identitas dan makna diri dalam lingkungan sosial dan kultur yang dipilih untuk menjadi bagian, bukan lagi suatu lingkungan yang diberikan dan dipaksakan oleh kekuatan dominan.
     Sistem sosial yang terbuka semacam ini, selain melahirkan kesempatan-kesempatan  dan pilihan-pilihan baru bagi publik, juga memunculkan gerakan tandingan dalam berbagai bentuknya. Keterbukaan sebagai hasil dari proses perbedaan yang terjadi dalam jangka panjang, merupakan iklim yang kondusif bagi berbagai agen untuk terlibat dalam penataan sosial. Berbagai gerakan dari para agen tersebut akan mendorong pembentukan struktur sosial yang didasarkan pada sistem akses yang terbuka secara meluas.
     Dari hal-hal tersebut kita bisa lihat bahwa banyak kerugian yang kita peroleh bila kita hanya memperhatikan ekonomi saja sehingga kita melupakan sosial budaya kita. Bila kita terus begini kita hanya bisa terpengaruh dan terpengaruh dan akhirnya kita lupa dengan jati diri kita dan jati diri kita dimanfaatkan oleh negara lain. Ini merupakan jalan yang harus kita pilih. Apa kita hanya ingin memperoleh kekayaan saja dan akhirnya lupa dengan kebudayaan dan jati diri kita atau kita ingin bisa menyeimbangkan itu semua? Ini semua dikembalikan kepada hati nurani kita. Apakah kita ingin mencapai Indonesia yang merdeka keseluruhan? Jika kita ingin, maka lakukanlah keseimbangan di semua bidang. Mari kita bersama mewujudkan Indonesia merdeka.(DHSS)

Senin, 14 Desember 2009

MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Definisi
Magnetic Resonance Imaging merupakan teknik pencitraan yang utama di bidang kesehatan bagian radiologi dalam menggambarkan struktur dan fungsi tubuh bagian dalam.

Perkembangan
Pada tahun 1946, Felix Bloch dan Purcell mengemukakan teori bahwa ,“Inti atom bersifat magnet dan dapat membuat spinning dan precessing”. Dari penemuan tersebut lahirlah Nuclear Magnetic Resonance (NMR) Spectrometer, yang penggunaannya terbatas pada kimia saja. 1971, Raymond Damadian menggunakan NMR untuk pemeriksaan pasien. 1979, The university of Nottingham Group memproduksi gambaran potoongan coronal dan saggital dengan NMR. 1984, American College of Radiology memberi saran untuk mengubah nama NMR menjadi Magnetic Resonance Imaging karena penamaannya tidak sesuai dengan kegunaannya.

Prinsip
MRI memanfaatkan prinsip resonansi magnetik inti atom hidrogen. Prinnsip ini berhubungan dengan sifat magnet, dimana  inti atom hidrogen memiliki sifat terrsebut dan dapat diatur arahnya agar sesuai dengan arah medan magnet luar yang stabil atau berlawanan dengan arah medan magnet luar yang tidak stabil (tingkat energi lebih tinggi). Untuk mengubah arahnya dari yang lebih stabil ke yang kurang stabil, maka dibutuhkan energi yang sesuai (dalam kisaran gelombang radio).Berdasarkan prinsip ini, maka dapat dideteksi hubungan antara gelombang radio pada frekuensi tertentu dengan perubahan orientasi proton yang dikenal sebagai resonansi magnetik inti.

Mekanisme
1.    Proton-proton di dalam molekul hidrogen memiliki spin yang acak pada keadaan dasarnya. 
2.    Proton-proton molekul hidrogen bergerak dalam lintasan garis-garis medan magnet dengan intensitas beragam.  Frekuensi gerakan berbanding lurus dengan kuat medan magnet.
3.    Selintas sinyal radio yang memiliki frekuensi sama dengan frekuensi gerakan proton, mengeluarkan proton dari lintasan garis-garis medan magnet.
4.    Ketika sinyal radio dihentikan,  proton kembali mengikuti arah lintasan medan magnet mengemisikan sinyal radio mereka sendiri yang kemudian menujukkan kehadiran garis-garis spesifik

Sel Surya

   Cahaya matahari merupakan gelombang elektromagnet sekaligus merupakan salah satu bentuk energi, dimana kita telah memanfaatkannya berabad-abad. Pemanfaatannya pun berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu pemanfaatannya adalah pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang memanfaatkan energi foton menjadi energi listrik dengan menggunakan sel surya.
Sel surya tersusun oleh kaca pelindung dan material adhesive transparan yang melindungi sel surya dari keadaan lingkungan, material anti-refleksi untuk menyerap lebih banyak cahaya dan mengurangi cahaya yang dipantulkan , semikonduktor P-N (terbuat dari silikon) untuk menghasilkan medan listrik, saluran awal dan saluran akhir untuk mengirim elektron ke perabot listrik.
   Cara kerja sel surya adalah ketika cahaya bersentuhan dengan sel surya dan diserap oleh bahan semikonduktor, terjadi pelepasan elektron (efek foto listrik). Saat elektron berpindah menuju bahan semikonduktor pada lapisan yang berbeda (energi yang lebih rendah) maka terjadi perubahan sigma gaya-gaya pada bahan. Gaya tolakan antar bahan semikonduktor, menyebabkan aliran medan listrik .
Walaupun sel surya telah menggunakan bahan-bahan dan cara kerja yang modern, efisiensi tertinggi sel surya baru mencapai 40%. Hal ini terjadi karena berbagai faktor , sehingga tidak seluruh cahaya yang diproses di dalam sel surya diubah menjadi energi listrik. Faktor-faktor ini meliputi sifat inheren semikonduktor yang dipakai sebagai sel yang tidak menangkap semua spektrum cahaya tampak, energi yang dibutuhkan untuk melepas ikatan elektron, dan hambatan dari rangkaian listrik yang digunakan, sehingga sebagian dari energi foton yang terserap berubah menjadi energi kalor. Hal inilah yang menunjukan Hukum Termodinamika I(Hukum Kekekalan Energi), yang berbunyi Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi dapat dirubah bentuknya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada sel surya denngan efisiensi 100%.
   Pada sel surya juga berlaku Hukum Termodinamika II (Hukum Keseimbangan /Kenaikan Entropi), yang berbunyi Sebuah proses alami yang bemula di dalam suatu keadaan kesetimbangan dan berakhir di dalam suatu keadaan kesetimbangan lain akan bergerak dalam arah yang menyebabkan entropi dari sitem dan lingkungannya semakin besar.(DHSS)

Grafin Pengganti Silikon

     Pada tahun 2008 lalu, Walter de Heer, seorang profesor teknik fisika, menemukan sebuah bahan semikonduktor  yang  dapat menggantikan fungsi silikon pada piranti elektronik termasuk prosesor yaitu grafin, bahan yang biasa ditemukan dalam pensil. Untuk mencapai penemuan ini telah dibuat berbagai macam model bahan yang diperkirakan dapat menjadi bahan semikonduktur yang lebih baik dari silikon. Ternyata model  grafinlah yang paling cocok untuk menggantikan silikon.

    Grafin memiliki banyak kelebihan dibandingkan silkon, dimana dengan hanya menggunakan satu lapisan dengan ketebalan satu atom dapat dibuat transistor dengan kecepatan  ratusan kali lebih cepat daripada transistor silikon. Dan bahkan dengan kecepatan itu transistor grafin dapat beroperasi hampir tanpa hambatan  dan tanpa over heating karena sifat konduktor panas yang dimiliki grafin, sehingga panas yang dihasilkan segera dihilangkan dengan cepat. Hal inilah yang menjadi dasar dari perencanaan pembuatan prosesor terra hertz.

   Selain pada kecepatan, grafin juga memiliki nilai lebih dibandingkan silikon. Silikon tidak dapat diukir menjadi sirkuit elektronik lebih kecil dari sepuluh nanometer tanpa kehilangan sifat elektroniknya, sedangkan grafin dapat mempertahankan bahkan meningkat  sifat elektroniknya pada ukuran satu nanometer.
Meskipun grafin memiliki banyak kelebihan dibandingkan silikon , grafin meninggalkan satu masalah mendasar. Grafin sukar menjadi penghenti arus karena resistensinya terlalu kecil dan konduktivitasnya tidak bisa dibuat nol. Hal ini berdampak positif untuk aplikasi-aplikasi berfrekuensi tinggi, tetapi berdampak negatif untuk prosesor komputer karena tidak efisien. Untuk memecahkan masalah ini, grafin harus diproses lebih lanjut melalui 3 cara berikut, yaitu:
1.    Membuat grafin menjadi pita sempit dan tipis sehingga akan menaikan resistensinya
2.    Memodifikasi grafin secara kimiawi
3.    Meletakkan selapis grafin di atas subtrat tertentu. (DHSS)

Escherchia Coli sebagai Sumber Energi Masa Depan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Dari bahan makanan sampai sumber energi tersedia di Indonesia. Sayangnya, karena kelalaian bangsa Indonesia dalam memanfaatkannya, kini  sumber daya alam mulai terasa langka, terutama sumber energi. Kondisi ini menggerakkan para ilmuwan untuk mengembangkan sumber energi pengganti minyak bumi, salah satunya teknologi “blue energy”. Dimana zat yang berperan penting dalam teknologi ini adalah hidrogen. Dalam teknologi ini hidrogen, tidaklah dimanfaatkan secara langsung, tetapi melalui proses pembakaran. Dimana pembakaran hidrogen menghasilkan energi yang sangat tinggi. Pada awal perkembangan teknologi ini, karena jumlah hidrogen di alam diperkirakan tidak memadai, hidrogen diperoleh dari hasil elektrolisis air. Walaupun proses ini dapat memenuhi jumlah hidrogen untuk digunakan sebagai bahan bakar, proses ini sangat mahal dan membutuhkan energi yang sangat besar, sehingga bahan bakar hidrogen belum dapat digunakan secara komersial sampai saat ini. Namun, belakangan ini telah ditemukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut yaitu dengan memanfaatkan bakteri Escherichia coli sebagai sumber energi yang dibawa hidrogen. Pemanfaatan bakteri Escherichia coli ini merupakan inovasi yang paling menjanjikan bagi sumber energi masa depan, baik di Indonesia, maupun di seluruh dunia karena sumber energi ini tersedia dalam jumlah yang memadai, ramah lingkungan dan terbarukan (renewable).

Jumlah Memadai
Bakteri Escherichia coli berkembang biak dengan cara melakukan pembelahan biner dan peristiwa berlangsung dengan sangat cepat yaitu selama 20 detik untuk setiap kali pembelahannya. Ciri khas inilah yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang singkat dan biaya yang murah. Tetapi, hal ini tidak dapat terjadi begitu saja karena dalam kondisi normalnya bakteri Escherichia coli tidak dapat menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang berarti. Oleh karena itu, diperlukanlah teknologi rekayasa genetik untuk menghasilkan jumlah hidrogen yang berlimpah. Yang dilakukan adalah memodifikasi stuktur genetik bakteri Escherichia coli dengan menghilangkan enam gen spesifik. Pemodifikasian ini telah dibuktikan oleh Prof. Thomas Wood, profesor Fakultas Teknik Kimia Universitas A&M Texas, dapat menghasilkan hidrogen 140 kali lebih banyak dibandingkan proses normal. Hal inilah yang menunjukkan bahwa bakteri escherichia coli sebagai sumber energi akan dapat memenuhi segala kebutuhan kita akan energi di masa yang akan datang.

Ramah Lingkungan
Dalam pemanfaatan bakteri Escherichia coli sebagai sumber energi sesuai dengan konsep “blue energy”. Yang dimaksud dengan “blue energy” adalah energi yang ramah lingkungan. Untuk mewujudkan hal itu, maka digunakanlah hidrogen yang dihasilkan bakteri Escherichia coli sebagai  bahan bakar. Pemilihan hidrogen sebagai bahan bakar ini tidaklah sembarangan dibutuhkan penelitian dan eksperiman untuk membuktikan hasil yang diperoleh dari pembakaran hidrogen tidak mencemari lingkungan. Karena penelitian dan eksperimen itu, kita dapat mengetahui reaksi pembakaran hidrogen tersebut dan secara sederhana dapat dituliskan sebagai berikut:
2H2 + O2 ? 2H2O
Dapat kita lihat bahwa pembakaran hidrogen hanya menghasilkan uap air yang tidak berbahaya bagi lingkungan maupun manusia.

Terbarukan (Renewable)
Pemanfaatan Bakteri Escherchia coli yang telah dimodifikasi, yang menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang banyak, tidaklah mengakibatkan habisnya bakteri Escherichia coli yang dapat dimanfaatkan sebagi sumber energi. Bakteri Escherchia coli yang telah dimanfaatkan dapat dimanfaatkan kembali karena yang dimanfaatkan sebagai energi hanya hidrogen yang dihasilkan bakteri tersebut. Walaupun begitu, waktu hidup  Escherchia coli tidaklah panjang. Oleh karena itu, bakteri Escherchia coli yang baru sebagai hasil dari berkembang biak segera menggantikan fungsi dari bakteri yang telah kehabisan waktu hidup, sehingga mengakibatkan terbentuknya siklus, dimana bakteri Escherichia coli yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi akan terus dihasilkan. Peristiwa seperti inilah yang kita sebut terbarukan (“renewable”). 

Bakteri Escherichia coli merupakan jawaban dari permasalahan kelangkaannya  sumber energi, baik di Indonesia, maupun seluruh dunia. Dengan memanfaatkan bakteri Escherchia coli, biaya yang kita keluarkan untuk sumber energi lebih murah, energi yang kita peroleh lebih tinggi, dan kehidupan di bumi menjadi lebih bersih dan sehat  dibandingkan memanfaatkan sumber energi fosil karena bakteri Escherchia coli dapat memenuhi segala kebutuhan akan energi, tidak mencemari lingkungan, dan terus berkembang biak menggantikan yang telah dimanfaatkan. (DHSS )